Tidak Ada yang Terlambat. Tidak Ada yang Terlalu Cepat

Aku mengagumi caramu yang begitu sederhana membuatku jatuh cinta.

Tanpa perlu kamu tunjukkan apa yang kamu miliki, semua kebaikan itu selalu terwakilkan lewat tutur dan keseharianmu. Tanpa harta benda yang katanya bisa menyilaukan, senyumanmu sudah cukup benderang untuk menghangatkan hari-hariku.

Pernah sekali terlintas dalam benakku, apakah aku menginginkan pertemuan yang lebih awal denganmu. Kalimat “Coba aku ketemu kamu dari dulu…” Pantaskah aku ucapkan itu?

Kuurungkan.

Tidak ada yang terlambat, ataupun terlalu cepat, untuk apa yang telah ditakdirkan Tuhan. Kita bertemu saat hati kita telah siap. Siap untuk satu sama lain. Aku siap untuk kamu. Kamu siap untuk aku. Bukan untuk orang lain. Tapi untuk kita.

Waktu telah dipinjamkan untuk kita agar jatuh cinta.

Aku mensyukuri detak waktu yang bergulir dan pada suatu putarannya garis takdir kita bersinggungan.

Aku mensyukuri kesempatan yang Tuhan berikan sebelum kita bertemu, tentang doa panjangku agar kita bersabar dan tetap dalam kebaikan. Aku mensyukuri waktu tunggu terdahulu sehingga lebih dapat kumaknai arti kehadiranmu dan pertemuan kita.

Dan aku mensyukuri bahwa aku tak perlu lebih lama lagi menunggu untuk membersamaimu.

Kini kita telah bersama. Kini waktu telah Tuhan titipkan pada kita untuk diisi dengan kenangan dan kebaikan.

Tidak ada yang terlambat, dan tak ada yang terlalu cepat, kalau kita memang percaya takdir Tuhan, dan berharap dipertemukan di waktu yang tepat.

Z

Advertisements

Dear Future Sunshine

Dear Nak, setelah lama nggak menulis rasanya jadi kaku nih bikin tulisan hehe. But there’s a lot of things to say, kalau-kalau di kemudian hari terlupakan atau belum sempat tersampaikan.

Dear Nak, saat kamu besar nanti, enggak tahu apakah bun dan ay masih bisa mendampingi kamu. semoga kami selalu ada ya, mengiringi kamu dan mendidik kamu terus. sayangnya, kata “selalu ada” itu bukan menjadi ranah kekuasaan kami, nak. sama sekali nggak ada satu hal pun yang merupakan kekuasaan dan kepemilikan kami. begitupun kamu. kamu adalah sebuah titipan, titipan terbaik yang jika dibesarkan menurut apa yang “Menitipkan” perintahkan, maka akan ada balasan yang baik juga untuk kami.

Sekali lagi, bun akan mengingatnya terus disaat diri ini terasa terlalu mengekang, bahwa kamu adalah milik Allah.

Dan “selalu ada” bersamamu pun, adalah bagaimana Allah menakdirkan kita. Apakah usia bun dan ay bisa sepanjang jejak langkah dan hela napas kamu di dunia, atau Allah punya takdir lain untuk kita.

Indah bukan Nak terlahir di dunia?

Saat kedua orang tuamu menjadi pintu surga termudah bagimu.

Dan saat kamu yang kelak nanti bisa membukakan pintu surga juga untuk kedua orang tuamu.

Jadi apakah kamu mau bekerja sama dengan bun dan ay untuk sama-sama kelak berkumpul di surga lagi, Nak, dengan sebanyak-banyak mereguk amal sholeh dan kebaikan yang Allah hamparkan di dunia, selagi diberi kesempatan?

Mungkin kalau kamu membaca ini disaat kamu sedang marah pada ay dan bun karena dilarang melakukan sesuatu, atau kamu sedang desperate tentang kuliah atau pekerjaan kamu, semua urusan surga itu terasa nonsense, ya? Semoga Allah selalu menjadi tujuan kita ya Nak dan Al-Qur’an selalu menjadi pegangan hidup kita.

Di suatu waktu di hidupmu, mungkin kamu akan insecure tentang banyak hal, mempertanyakan kenapa Allah memberimu takdir yang sedemikian, kenapa sungguh tidak mudahnya menjalani hari. Mungkin tentang hari-harimu di sekolah, tugas kuliahmu, mimpi-mimpimu pasca lulus, pekerjaan impian yang gagal kamu capai, hingga kamu berakhir di balik meja kantor yang serasa berdebu dan mengurungmu dalam rutinitas tanpa progress.

Mungkin kamu sedang setengah mati melawan rasa mindermu saat teman-temanmu sudah lulus duluan, sudah nikah duluan, sudah kerja duluan, sudah segala-galanya yang menjadi wishlist kamu. Mungkin kamu juga sedang lari, dari rasa sakit hati dan perasaan tidak berguna. Apapun itu yang ada di dalam perasaanmu.

Mungkin saat itu, jikalau bun dan ay masih ada pun, kamu tidak lagi membutuhkan belaian dan pelukan sebagaimana keduanya bisa menenangkanmu sewaktu kamu kecil. Mungkin saat itu yang kamu butuhkan ada mencari, mencari jawaban atas perasaan-perasaan negatif itu, dan bergegas untuk mengejar semua ketertinggalanmu.

Kalau saja bun dan ay terlambat untuk mengajarimu tentang betapa berartinya dirimu, dan kamu terlanjur menjalani hari-hari beratmu tanpa arah, ingatlah bahwa bahkan sejak sebelum kamu lahir, kamu sudah lebih dahulu berarti bagi dunia.

Jangan sedih, karena kamu lahir di keluarga yang penuh cinta, yang menyambutmu dengan suka, dari keluarga yang terikat secara halal. Kamu lahir di keluarga yang juga pernah tau perasaan kerasnya hidup seperti yang kamu rasakan, dan mereka bertahan. Kamu lahir dari mereka yang berkeras untuk tetap meyakini takdir terbaik Allah meskipun terkadang diterpa keraguan sebab cinta yang agak sedikit berlebih pada dunia.

Kalau kamu tidak tahu, betapa banyak yang sejak dahulu mendoakan keberadaanmu di tengah-tengah bun dan ay, berapa banyak yang mendoakan kehadiranmu. Begitulah artinya dirimu. bagi dunia, kamu adalah bingkisan berharga untuk orang tuamu.

Dear Future Sunshine,

bun dan ay hanya bisa menjalankan tugas kami menurut kadar kemampuan kami. Sungguh, kami serahkan penjagaan dirimu, hatimu, imanmu, keselamatanmu, kepada Allah. Tidak ada kemampuan kami untuk itu, Nak, kami mengusahakan yang terbaik untuk merawat dan mendidik, juga menjaga dari bahaya dan fitnah dunia, tapi sungguh, itu bukanlah kami, itu Allah yang menitipkannya kepada kami.

Saat kamu jauh nanti, semoga kamu ingat bahwa hubungan kita bukan sebatas dia yang mengandung dan melahirkan, dia yang menafkahi dan membimbing, dan dia yang terlahir dari keduanya. Bahwa kita adalah keluarga, yang harus saling menjaga agar tidak tergelincir ke neraka.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(At-Tahrim ayat 6)

 

Love,

Z

Before I Met My Husband

Menulis judulnya saja membuatku throwback ke begitu banyak peristiwa di tahun 2017 yang membuatku semakin meyakini, sungguh Allah Maha Mendengar. Seperti kata seniorku, “Kita nggak tau ucapan kita yang mana yang saat terucapkan akan diaminkan oleh Malaikat dan diijabah Allah. Maka, ucapkan terus perkataan yang baik-baik, lirihkan terus doa-doa, tentu diiringi dengan niat dan perbuatan yang baik, sehingga Allah pun malu jika tidak menjawabnya segera.”

Doa dan perkataan yang baik? Done. Entah sejak kapan aku sudah berazzam, “pokoknya tahun 20xx harus nikah!” Dan well, tahun demi tahun itu terlewati. Di awal tahun 2017, semakin niatlah aku, pokoknya tahun ini gue harus nikah. Tapi kondisinya, bulan Januari, calon suami nggak ada, yang PHP-in banyak hahaha.

Dalam banyak kesempatan, entah itu di tengah obrolan serius dengan teman ataupun bercanda ala ibu-ibu kantor, aku selalu dengan pedenya bilang, “2017 nikaaah! bismillah!” Kalau udah kayak gitu, biasanya direminderin sama teman yang lain, “Sekarang udah bulan apa, Zi? Calon udah ada, Zi?”

Kalau udah gitu kemudian mikir… mo nikah ama siapa gue… 

Usaha-usaha yang ditempuh selain sounding kalau mau nikah (yang dikira galau karna caption IG):

  • Minta kenalin temen? Udah. (nggak ada yang beneran serius kenalin temennya haha)
  • Minta dicariin ortu? Udah. (Yang kemudian dibilang, “emang nggak ada itu temen-temen lain? mama nggak ada kenalan.)
  • Memperluas pergaulan? Kayaknya enggak paham gimana caranya haha.
  • Naik gerbong campur di kereta? Tiap hari!
  • Dan banyak lainnya!

Aku berdoa, semoga niatku pingin nikah bukan cuma ikut-ikutan kayak lagi hype nikah muda aja. Semoga dengan menikah, kemuliaan separuh agama tersempurnakan itu bisa kudapatkan. Semoga surga itu pun menjadi lebih dekat.

Dan aku sadar, surga hanya bisa diraih dengan cara yang tepat.

Baik Menurut Allah

Jodoh itu, katanya, perkara cerminan diri. Perempuan baik-baik untuk laki-laki baik-baik, begitu janji Allah di dalam kitabNya. Aku nggak cukup pede untuk menanyakan ke diri sendiri, sudah seberapa baikkah aku. Tapi aku cukup bisa mengukur, jodoh yang kuharapkan, bisa kukejar dengan kemampuanku saat itu. Kukatakan kemampuan, bukan keadaan, karena pada saat mulai mengukur, aku ternyata jauh dari harapanku sendiri.

Aku mulai buka-buka lagi buku-buku soal jodoh dan nikah yang udah dikumpulin sedari kuliah (haha kan ceritanya dulu efek lelah kuliah dan ingin nikah saja). Intinya aku direminder lagi, tentang niat menikah, ridho orang tua, dan persiapan diri juga. Bukan cuma tentang yang unyu-unyu aja, tapi berbagai kompleksitas masalah yang mungkin dihadapi.

Ortu udah ridho, mengingat momenku izin nikah pun di jalur pada umumnya, dimana sekolah-kuliah-lulus-kerja-nikah, jadi as long as laki-lakinya baik (dan beneran ada!), insya Allah diizinkan.

Persiapan diri? Yang aku ingat, saat itu aku masih berdoa menyebut nama “dia” “Ya Allah aku pingin dia. aku pingin dia jodohku.” Pada saat itu aku nggak benar-benar ikhlas menyerahkan hatiku untuk dibolak-balikkan Allah menurut rencanaNya. Aku sibuk dengan rencanaku sendiri yang kupikir itu terbaik, yang kupikir bersama seseorang yang kusebut namanya adalah pilihan terbaik untuk melanjutkan kehidupanku. Sampai kemudian aku berpikir, “Kalau kamu masih kayak gitu, Zi, bisa jadi jodoh yang Allah rencanakan untukmu malah nggak terlihat jelas di matamu, loh. Kalau kamu masih pakai kacamatamu sendiri, gimana bisa kamu melihat hamparan takdir Allah yang sebenarnya sudah disediakan untuk kamu? Apa yang baik buatmu belum tentu baik di sisi Allah, dan sebaliknya, loh.”

Proses persiapan diri itu juga yang akhirnya membuatku berpikir tentang pergaulanku selama ini. Kadang aku masih main keluar sama temen-temen yang mostly lawan jenis, sepulang kantor atau di akhir pekan. Itu bikin aku ngaca loh, duh aku kan nggak pingin lah calonku nanti tipikal yang begitu juga. Ikhtiarku untuk mendapatkan pasangan yang menjaga hubungan dengan lawan jenis, harus disertai usaha yang demikian pula.

Akhirnya aku pelan-pelan, mencoba melepaskan doa tentang “dia.” dan kuganti “dia” dengan siapapun yang Allah takdirkan, yang Allah pertemukan padaku dengan jalan yang baik-baik, yang Allah mudahkan segala proses diantara kami, maka I’ll marry him. Aku juga kurang-kurangi dan membatasi untuk nggak berlebihan bergaul dengan lawan jenisnya. Aku pingin ikutin jalannya Allah, pingin menjalani apa yang kuyakin, insya Allah baik di sisi Allah.

Tentang Kriteria

Aku menyederhanakan semuanya. Kriteriaku. Aku nggak pernah bener-bener memikirkan tentang “kriteria” itu. Kalau aku demen yaudah sih suka aja dan diharepin nikah haha. Aku mau serius dan aku mau tunjukin keseriusanku pada Allah tentang semua doa-doaku untuk nikah. Aku nggak lagi mikirin umur (haha iyaloh dulu mikir banget beda bulan sama tahun aja gue pikir…. cocok ga ya cocok ga ya), trus lulusan mana (dulu kudu banget kan suka sama orang masih pride harus dari kampus yang sama), asal daerahnya mana (iya dulu mesti yang deketan biar mudiknya deket! haha sumpah mikirnya kayak gitu), sepaham nggak ya (lah haha sepemahaman enggak sepemahaman enggak).

Finally, kayaknya itu semua nggak urgent-urgent banget, selama dia adalah orang-orang yang mencintai Allah.

Akhirnya aku tegaskan kriteriaku, didengar oleh temen ceritaku, “Pokoknya gue nggak minta yang aneh-aneh, asal dia agamanya baik, orang tua gue ridho, trus dia udah kerja juga, sama dia sayang sama anak-anak, siapapun gue okein!”

Ketika aku berharap agamanya baik, itu jadi motivasi buatku juga untuk memperbaiki ibadahku sendiri. Sholat sunnahku, bacaan Al-Qur’anku, supaya pada saat kami dipertemukan, aku ya nggak cupu-cupu amat gitu loh wkwk.

Bagi anak perempuan, tanggung jawab adalah pada ayahnya sampai dia menikah. Dan sungguh aku pingin orang tuaku bisa tenang hatinya menyerahkan anak perempuannya kepada laki-laki yang mereka ridhoi. Bakti anak perempuan, surga dan nerakanya, akan berpindah dari orang tua kepada laki-laki yang mengucap ijab tersebut.

Kalau sudah kerja itu adalah bagian dari requirement orang tua, dan sayang anak-anak itu is a must karena berhadapan sama keluargaku, yang ponakannya aja udah ada lima 🙂

Dan Allah sungguh Sebaik-Baik Perencana, that stranger, Fariz Kahfi has fulfilled the criterias.

 

Z

Terima Kasih, Alhamdulillah

Dulu sebelum menikah, harapanku nggak muluk-muluk, nikah sama laki-laki yang sholeh dan diridhoi orang tuaku aja udah cukup. But honestly, deep in my heart dan kadang-kadang diceletukin di becandaan teman seperjuangan, pingin dong ketemu jodoh anak kereta juga. Biar ala-ala kisah cinta di kereta dan stasiun drama korea. Walaupun yaa… cuma di stasiun Tanah Abang, sejarak Tanah Abang-Pondok Ranji, atau kalau lagi beruntung melipir dulu ke Sudirman haha.

Apa yang aku dapatkan setelah nikah, sungguh Allah Maha Mendengar doa yang tanpa sengaja terucap (walau sebenernya diharepin beneran demi memenuhi imajinasi love-life unyu-unyu demi inspirasi sebuah caption). Kita, aku dan kamu, alhamdulillah, dikasih rezeki sekaligus amanah tempat kerja yang nggak jauhan, aku di Tanah Abang, kamu di Sudirman. Dan setiap pagi alhamdulillah kita bisa berangkat bareng, meskipun kalau pulang kudu janjian dulu karena sometimes kamu kudu overtime atau aku yang ada rapat di luar kantor dan bisa langsung pulang ke rumah.

Sebenernya aku galau, mau cerita hal sweet tentang kamu atau enggak. Takut ada yang naksir, Ay 😦 Dapetin kamu aja susah kan nggak rela kamu jadi husband-materialnya cewek-cewek di luar sana mhihihi. Tapi greget juga. Aku somehow nggak bisa ngomong banyak hal sweet ke kamu selayaknya kamu yang udah ahli. Aku kayak kehilangan kemampuan untuk bersweet ria karena kalau udah ada di depan kamu, ya aku kedistrak macem-macem, segala hal yang ada di diri kamu.

Aku mau ngucapin makasih, tentang setiap paginya dimana kamu mau ganti-gantian nyiapin sarapan sama aku. Kalau dandanku kelamaan, atau kalau tiba-tiba mules tak terkendali, roti dengan limpahan meses itu udah enak banget.

Aku mau ngucapin makasih, untuk kamu yang selalu gandeng tangan aku, dari mulai keluar rumah sampai kita pisah di depan kantor aku atau di stasiun. Aku selalu mikir dalam hati, apa yang di pikirin orang-orang yang ngeliat kita gandengan, mikirnya “Penganten baru nih pasti,” yang mana emang bener, baru 6 bulan. Apa bisa seterusnya gandengan kayak anak ABG lagi pacaran? Dan genggaman kamu selalu bikin aku percaya, kalau disaat sekalipun aku mulai melonggar, kamu yang bakal menggenggam lebih erat. Pun saat kamu lupa, aku yang akan meraih tanganmu duluan.

Makasih udah temenin aku tiap pagi naik kereta yang super desekan, apalagi kalau dapetnya kereta Rangkas. Kalau aku udah mulai panik mau lari-larian di peron, kamu selalu narik tanganku dan nyuruh aku selow. iya sih dipikir kereta udah depan mata woles aja keles, ya.

Makasih udah jadi pegangan kalau aku nggak dapet pegangan kereta (Beh mana pernah dapet, selalu berdiri pas di depan pintu otomatis ye kan). Yang narik aku kalau hampir kebawa arus manusia, atau kedorong gara-gara kereta ngerem dan manuver. Atuh kenapa checklist happiness aku receh banget ya, hal-hal kayak gitu, tuh 😀

Makasih udah temenin jalan kaki dari Stasiun Tanah Abang sampe kantorku, melewati pedagang kaki lima yang buka lapak di trotoar so kadang kita cuek aja jalan di jalan raya yang kosong karena Bis Tanah Abang Explorernya lagi nunggu penumpang. Dan akhir-akhir ini karena aku udah ga kuat jalan dan demi kamu yang nyampe kantor lebih cepet, kita turun di Stasiun Palmerah dan pisah  pintu keluar, aku order Gojek dari Gapura arah Slipi, kamu ngeGrab via Senayan.

Dan pisah dimana pun kita, makasih udah sediakan tangan hangatmu itu tempat aku bisa cium tangan, berharap dengan ridho kamu kerjaanku seharian bisa lancar dan aku selalu bahagia sampai nanti sore kita ketemu. Makasih untuk selalu nggak pernah malu cium kepala aku persis dibawah tulisan STASIUN PALMERAH merah gede itu pas banyak orang lagi keluar nge-tap atau di depan masjid kantor aku.

Makasih untuk selalu bilang, “Semangat kerjanya, Assalamu’alaykum,” Terus kamu senyum. Dan aku cuman bisa dadah-dadah cem anak kecil didadahin manusia favoritnya.

Alhamdulillah wasyukurillah,” Itu yang selalu kamu ucapin kalau aku nanya pertanyaan yang cewek banget, “Seneng nggak kamu nikah sama aku?”

Dan aku pun sepatutnya mengucapkan syukur itu terus-menerus. Menulis tulisan ini bikin aku sadar, dari banyak skenario kehidupan yang aku rencanakan, apa yang Allah pilihkan adalah yang terbaik. Kayak kamu, walau sederhana dan datangnya tak terencana, tapi adalah yang terbaik dan penuh makna.

Tulisan pertama ini sebenernya semacam healer, sih, aku yang udah lama nggak nulis tapi banyak banget peristiwa spinning di kehidupanku dan nggak ada tempat menyalurkannya, bikin rada meletup-meletup di otak. Kamu tau lah, aku yang dulu apa-apa nulis, ngobrol aja kadang nggak cukup. Alhamdulillah bisa selesai satu tulisan (efek bosen istirahat sakit di rumah kali ya). Semoga diberi kemudahan untuk tulisan-tulisan selanjutnya ya, Ay, kayak motivasi yang kamu kasih buatku.

Yours, Z

 

Farewell Post

Hi, people. Apa kabar?

seem like it’s no longer I’m writing in this WordPress. WordPress ini yang jadi tempat curhatan bermacam-macam hal hehehe sejak zaman mulai perkuliahan hingga berakhir di tempat kerja sekarang. Banyak tulisan, ide-ide, opini, dan macam-macaam hal ada disini dan bener-bener bisa jadi bahan untuk aku introspeksi sebenernya sudah sejauh apa berkembang secara pemikiran.

Maybe this is my last post on this blog, eh? Sudah entah berapa lama tidak produktif lagi menulis karena satu dan lain hal. Padahal hal-hal yang sebenernya perlu dituliskan juga tapi rasanya, well, bisa istirahat aja udah bahagia banget 😀

belum tau akan mulai menulis lagi dimana. Tapi yang pasti, aku bakal rajin menulis lagi (diusahakaaan huah, gomen nee T_T). Ya nggak bakalan lah aku berhenti menulis, aku ketemu orang-orang spesial dalam hidupku kan juga karena tulisan-tulisan di WordPress ini ^^

Ingin mencoba menulis lagi dengan lebih sistematis, dan yang pasti bermanfaat. Dan nggak mau galau-galau lagi hehehe. Jadi I think it’s over for my youth and single ages hehehe, thanks to kacamatazia yang bikin gue sedikit merasa hitzz loh wkwkw.

Oiya tulisan-tulisan di WordPress ini bakal kubiarin aja, mungkin bertahun-tahun kemudian bakal kubaca lagi atau malah dibaca anak-anakku nanti dan mereka tahu kalau ibu mereka rada gesrek juga otaknya hehehe.

This will be my last post (oke udah bilang diatas ye) dan I’ll inform here if I have any other places to share my writing. But maybe I’ll check it some time so feel free to leave any comment on my any posts, it’s nice to discuss about anything indeed.

well, so… it’s farewell! Arigatou, WordPress. Bye, Kacamatazia!